Telapak dan Unkhair Amati Laut Sekitar Harita Nickel Bersih dan Terjaga

Kategori

:
Lingkungan & K3.

13 Oktober 2025 | media

detail

Kunjungan lapangan oleh Perkumpulan Telapak, organisasi non-pemerintah yang berfokus pada tata kelola lingkungan dan sosial, bersama tim akademisi Universitas Khairun Ternate (Unkhair) mengonfirmasi bahwa kondisi perairan di sekitar area operasional Harita Nickel di Pulau Obi tetap terjaga dan berada dalam kondisi baik.

Observasi dilakukan di beberapa titik, termasuk pada jarak sekitar 500 meter dan lima kilometer dari garis pantai. Hasilnya, air laut di area tersebut tampak jernih, sementara artificial reef (terumbu buatan) yang dikembangkan dari terak nikel telah ditumbuhi karang alami.

Wakil Ketua Perkumpulan Telapak, Dickson Aritonang, mengatakan kejernihan perairan mencerminkan pengelolaan lingkungan yang dijalankan perusahaan secara konsisten.

Tim Perkumpulan Telapak dan Universitas Khairun Ternate melakukan observasi kondisi perairan di sekitar area operasional Harita Nickel di Pulau Obi.
Tim Perkumpulan Telapak dan Universitas Khairun Ternate melakukan observasi kondisi perairan di sekitar area operasional Harita Nickel di Pulau Obi.

“Kejernihan air sangat jelas terlihat. Bahkan di kedalaman empat sampai lima meter, artificial reef yang dikembangkan Harita Nickel sudah ditumbuhi karang alami,” ujarnya, menambahkan bahwa terumbu buatan dari terak nikel ini tidak mengganggu keseimbangan ekosistem.

Selain meninjau kondisi laut, tim juga mengamati infrastruktur pengelolaan air di area darat. Dickson mencatat keberadaan dua sediment pond utama, yaitu kolam Bunaken dan kolam Tuguraci, dengan luas masing-masing sekitar 20 dan 40 hektare. Keduanya dilengkapi dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan sistem pemantauan kualitas air SPARING yang terhubung langsung ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

“Kalau kualitas air tidak sesuai, datanya otomatis terkirim ke kementerian. Jadi tidak ada ruang abu-abu,” jelasnya. Menurutnya, sistem drainase dan pengendapan air limpasan tambang maupun air limbah di Harita Nickel menunjukkan pengawasan yang kuat dan transparan.

Dickson menegaskan, meski pertambangan memiliki potensi dampak lingkungan, langkah-langkah pemulihan dan keterbukaan terhadap evaluasi independen harus terus dijaga.

“Keberlanjutan bukan hanya tentang performa bisnis, tapi juga tanggung jawab sosial dan lingkungan,” ujarnya.

Temuan Telapak selaras dengan pengamatan tim akademisi Unkhair yang dipimpin Prof. Dr. M. Janib Achmad, S.Pi., M.Sc. Ia menyebut parameter fisik air laut di titik pemantauan menunjukkan hasil sesuai dengan baku mutu.

“Hasil observasi menunjukkan pola ekologi perairan tetap terjaga. Ini menandakan aktivitas operasional dilakukan dengan prinsip tanggung jawab sosial, ekonomi, dan lingkungan,” ungkap Prof. Janib.

Ia menekankan pentingnya penerapan teknologi dan pendekatan berbasis pembangunan berkelanjutan.

“Prinsip ini harus terus dipertahankan supaya manfaatnya dirasakan masyarakat luas, bukan hanya industri,” tegasnya.

Baik Dickson maupun Prof. Janib sepakat bahwa perlindungan lingkungan membutuhkan komitmen terhadap keterbukaan dan pengawasan. Jika konsistensi ini dijaga, praktik yang dijalankan Harita Nickel di Pulau Obi dapat menjadi contoh penting bagi tata kelola pertambangan yang berkelanjutan di Indonesia.

—

Sebagai referensi, Laporan Observasi Sosial oleh Perkumpulan Telapak bisa diakses melalui link ini dan Kajian Lingkungan Laut dan Pesisir oleh peneliti dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun Ternate bisa diakses melalui link ini.